Pesatnya untuk melakukan hal lain. Mobil ini

Pesatnya pertumbuhan ekonomi
masyarakat menuntut adanya inovasi-inovasi baru yang menunjang kegiatan
manusia. Salah satu tuntutannya adalah kenyamanan dan keamanan manusia.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh NHTSA (NHTSA, 2015), sekitar 94%
kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh kelalaian pengemudi (human error). Belajar dari masalah
tersebut akhirnya muncul inovasi teknologi baru di bidang transportasi, yaitu
mobil tak berawak. Pembuatan mobil tak berawak ini dinyatakan mampu mengurangi
kemungkinan adanya human error. Tentu
saja pembuatan mobil tak berawak ini menimbulkan pro dan kontra. Jadi untuk
itulah esai ini dibuat. Tujuan utama pembuatan esai ini adalah mengupas permasalahan
yang ditimbulkan  mobil tak berawak dari
segi moral dan etika, serta sisi yang lain. Kemudian dari paparan tadi akan
muncul pertanyaan-pertanyaan terkait. Benarkah mobil tak berawak ini menjadi
solusi efektif untuk mengurangi kemungkinan adanya human error? Bagaimana dampaknya pada keadaan ekonomi masyarakat? Bagaimana
isi moral dan etika dari mobil tak berawak? Mari diskusikan!

Mobil
tanpa awak dikendalikan oleh mesin. Segala hal yang terkait dengan jalannya
mobil diatur oleh program yang sudah ditetapkan oleh pembuat mobil tersebut.
Mobil ini didesain untuk memudahkan manusia agar tidak perlu repot-repot untuk
menyetir dan bisa menggunakan waktu di dalam mobil untuk melakukan hal lain.
Mobil ini juga didesain sebagai salah satu pemecahan masalah human error yang menjadi penyebab
terbesar kecelakaan. Mendengarnya saja sudah langsung terbesit kemungkinan
penampakan mobil dan langsung berekspetasi tinggi terhadap mobil ini. Sekilas
sepertinya mobil ini sangat modern, dan canggih. Bahkan orang bisa langsung
setuju bahwa mobil tanpa awak merupakan salah satu solusi efektif untuk
mengurangi presentasi kecelakaan lalu lintas khususnya akibat human error. Tetapi, apakah benar
demikian? Yakinkah bahwa mobil tak berawak ini tidak memiliki masalah program
yang sama besarnya dengan human error?
Berikut akan saya berikan beberapa informasi terkait mobil tak berawak. 

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Mobil
tanpa awak yang terbaru sudah tidak menyediakan kemudi di dalamnya. Berdasarkan
penjelasan pada artikel di laman The
Telegraph (James Armstrong, 2016), mobil tanpa awak bekerja dengan beberapa
perangkat. Salah satu perangkatnya adalah sensor radar yang ada di sekitar
mobil. Sensor tersebut berfungsi untuk memonitor setiap posisi kendaraan di
dekatnya. Selain itu, ada perangkat kamera video untuk mendeteksi lampu lalu
lintas, membaca rambu lalu lintas dan melacak kendaraan lain sambil melihat
pejalan kaki dan rintangan lain yang mungkin menghambat perjalanan. Terdapat
pula sensor lidar yang membantu mendeteksi tepi jalan dan mengidentifikasi
tanda jalur dengan memantulkan pulsa cahaya dari lingkungan mobil. Serta
terdapat sensor ultrasonic di roda yang bisa mendeteksi posisi curbs dan kendaraan lain saat parker.
Terakhir, ada komputer sentral yang menganalisa semua data dari berbagai sensor
untuk memanipulasi kemudi, akselerasi dan pengereman.

Tantangan
moral dan etika selalu jadi masalah dalam perjalanan dengan mobil tanpa awak,
apalagi ketika mobil tanpa awak ini dihadapkan dengan situasi yang dikenal luas
sebagai Trolley Problem. Seperti yang
dimisalkan dalam artikel “The Misconception of Ethical Dilemmas in Self-Driving
Cars” (Tobias Holstein, 2017); mobil tanpa awak sedang melaju dengan kecepatan
tinggi, tiba-tiba muncul  beberapa orang
yang akan menyebrang di depan mobil. Mobil terlalu cepat untuk bisa berhenti
tepat waktu dan jika mobil tidak segera bertindak maka seluruh pejalan kaki
tersebut bisa meninggal. Pilihan pertama, mobil berbelok ke trotoar yang
terdapat pejalan kaki lain disana dan kemungkinan mereka bisa terluka atau
bahkan terbunuh. Pilihan kedua, mobil banting stir dan menabrak dinding; tapi
pilihan tersebut akan melukai penumpang dalam mobil. Pilihan mana yang akan
dipilih mobil tak berawak? Dalam artikel di The
Guardian (Alex Hern, 2016), Andrew Chatham, seorang insinyur utama dalam
proyek pengembangan mobil tanpa awak menuturkan bahwa belum pernah ada situasi
semacam itu yang dialami oleh seseorang. Chatham juga berkata jika memang
terdapat situasi tersebut, berarti ada kesalahan yang dibuat beberapa detik
sebelumnya. Menurut Chatham, setiap individu memiliki dilema etis masing-masing
dan hal tersebut tidak konsisten sehingga hal yang terbaik dilakukan adalah
dengan tidak mencoba memprogram mobil tanpa awak menghadapi situasi tersebut berdasarkan
pandangan programmer. Apabila Chatham
ditempatkan sebagai seorang programmer
dan terpaksa memprogram mobil tanpa awak tersebut, maka dia akan memprogram
mobil tanpa awak sedemikian rupa untuk mencegah mobil berhadapan dengan situasi
semacam itu.

Selain
masalah moral dan etika, akan muncul juga masalah ekonomi. Mobil tanpa awak
yang 100% dikendalikan oleh mesin tidak lagi membutuhkan supir untuk mengemudi.
Otomatis akan banyak supir yang kehilangan pekerjaan sedangkan supir biasanya merupakan
golongan orang menengah ke bawah. Hal ini akan berdampak pada kesejahteraan
masyarakat.

Berdasarkan
paparan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa mobil tanpa awak ini memiliki
permasalahan mendasar yang masih sangat perlu diperhatikan. Seperti masalah Trolley Problem yang masih belum ada
penyelesaian pasti, masalah supir juga masih harus dipikirkan jalan keluarnya
karena masalah-masalah ini menyangkut minat dan penerimaan masyarakat terhadap
mobil tanpa awak. Menurut saya, salah satu solusinya adalah dengan tetap
menyediakan kemudi agar manusia masih dapat mengambil alih jika terdapat
situasi yang tidak diinginkan. 

Go Top
x

Hi!
I'm Eleanor!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out